Selamat Datang Ke 18X Cool.
Pastikan diri anda berumur 18 tahun ke atas.Jika umur anda di bawah 18 tahun kebawah.Sebarang kejadian yang tak di ingin berlaku terhadap diri anda .Pihak kami tidak akan bertanggungjawap :p .. selamat membaca..

Wednesday, April 28, 2010

SELEMBUT SUTERA (D U A)

BUKAN BARU sekali ini Aningsih menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, Aningsih harus mengakui, bahwa lelaki seperti Benny sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya!
Aningsih membiarkan saja Benny meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan Benny meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.
Aningsih merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Benny hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Aningsih jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. "Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!" ujar Aningsih sambil membusungkan dada yang sedang diremas Benny, agar Aningsih lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.
Benny memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Benny menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh Aningsih semakin deras saja!
"Ben !! Kamu sering main perempuan!" tanya Aningsih ditengah-tengah napasnya yang terengah.
"Tidak sering, Mbak. Baru beberapa kali saja." ujar Benny sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.
"Auww . . . !!" Aningsih menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Benny. Dan untuk kesekian kali, Aningsih harus mengakui, bahwa kuluman bibir Benny sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. "Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!" dua telapak tangan Aningsih mengerumasi rambut Benny sambil menekankan.
Benny semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Benny. Dilepaskan. Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Benny melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. "Oukh, Benny! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Bennnn!!!" mulut Aningsih mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada Aningsih semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Benny menggeser-geserkan di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas Aningsih turun naik. "Bennyy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !" dan Aningsih merintih-rintih.
Benny semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Benny mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan Aningsih tak menentu mengerumasi rambut Benny yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan.
Lama Benny mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Benny tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Aningsih berbulu lebat. Sesuai dengan selera Benny. Benny memang paling senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan pengalaman Benny, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.
Benny menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. "Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!" bisik Aningsih terputus-putus.
Benny bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Benny juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Benny.
Permainan lidah Benny terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Aningsih yang sensitip. Dijilatinya perut Aningsih yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Benny berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Benny membelai-belai kedua paha Aningsih yang masih terkatup.
Aningsih sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika Aningsih menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha Benny. Aningsih menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. Aningsih menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Benny yang aduhai. Benny yang sedang menciumi sedikit di bagian bawah pusar Aningsih tertahan-tahan napasnya. "Oukh. Mbak . . . !" katanya. Aningsih merasakan benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu. Sementara itu. tangan Benny masih juga terus meraba-raba Aningsih berganti-ganti.
"Sabar, Mbak!" bisik Benny. "Nanti Mbak boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh Mbak. Seluruh tubuh Mbak! Kurang leluasa kalau Mbak menggengam punyaku begini!"
Apa boleh buat. Meskipun Aningsih masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya.
Dan . . . hhmmmh! Benny menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan Aningsih. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan Aningsih bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat Aningsih. Benny menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu juga Benny akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Benny bukanlah type lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. "Oukh, Ben!" Aningsih menepuk pipi Benny lembut. "Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!"
Benny menelan ludah sambil tersenyum. "Bukannya aneh, Mbak. Tetapi anumu, nih . . . !" ujar Benny sambil membelai rambut kemaluan Aningsih. "Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!"
Aningsih tertawa kecil. "Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!" tanya Aningsih sambil menggosok-gosok bulu-bulu rambut di dada Benny.
"Senang sekali, Mbak. Senang sekali," Benny masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang indah itu.
"Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!"
"Belum, Mbak. Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak!" ujar Benny.
Aningsih tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Benny. "Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang kau sukai pada punyaku!"
Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Benny akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan Aningsih yang kini sudah terpampang di hadapannya. Benny menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya. Kadang-kadang ditarik-tariknya. Aningsih merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Jari-jari tangan Benny bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!
"Bennn !!" Aningsih merintih.
Benny menguakkan bibir-bibir kemaluan Aningsih. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Benny menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Benny meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Benny memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Ningsih memijit hidung Benny agak kuat. "Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!"
Benny tersenyum. Tahulah dia, bahwa Aningsih sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Benny masih ingin lebih lama memandangi. Vagina Aningsih rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Benny menyentuhnya. Aningsih tergelinjang. "Wow! Hmmh, Bennnnnnn!! Ss sh, akh!" Aningsih menggeliat. Jari Benny terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.
Benny menempatkan di antara kedua paha Aningsih yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Benny menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi Aningsih bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Benny senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali. "Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!" Aningsih merintih-rintih.
Tingkah Benny saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang tidak ada dijual di toko. Semakin giat Benny menyentuhi sekerat daging kecil itu. Aningsih mengerumasi rambut Benny.
Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, dikuakkan oleh Benny semakin lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah niengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, Aningsih terpekik: "Awww . . . !" Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Benny telah membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. "Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!" Aningsih merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Benny dengan kedua tangnnya. Maka hidung Benny mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Aningsih. Kaki Aningsih menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Benny terus dengan giatnya menciumi. Vagina Aningsih menyebarkan aroma yang segar merangsang!
"Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!"
"Aku juga, Mbak! Aku . . . aku . . . juga enak," bisik Benny sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan menjilat.
Mata Aningsih merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. "Bennn! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!" tersendat-sendat suara Aningsih.
"Senang sekali, Mbak! Punyaku jadi semakin tegang, nih!" kata Benny tersendat-sendat pula. Dan lidah Benny terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit Aningsih. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan Aningsih telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Aningsih terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.
Benny benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina Aningsih yang harum itu. Sama sekali tidak jijik. Justru sebaliknya. Ketagihan. Benny semakin rakus dan semakin rakus.
"Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!" suara Aningsih menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Benny mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vagina Aningsih yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba Aningsih mengejang. "Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!" Aningsih merentak-rentak.
"Ayoh, Mbak! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!" ujar Benny yang terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vagina Aningsih dengan ujung lidahnya.
"Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Aningsih mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala Benny sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Benny membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan Aningsih. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah Benny yang terus menusuk-nusuk lobang vagina Aningsih.
Benny yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu Aningsih semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Benny sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Aningsih gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !
Benny tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan Aningsih yang melekati pinggiran bibirnya. Aningsih melompat dan memeluk Benny kuat-kuat. "Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat perempuan bahagia!" dan Aningsih menciumi bibir Benny bertubu-tubi.
"Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! "ujar Benny.
"Kau tidak jijik, Ben ?!"
"Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!"
Aningsih tambah gembira. Menciumi lagi bibir Benny bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas kasur. "Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!" ujar Aningsih yang segera menyergap selangkangan Benny.
"Auwww . . . !" Benny menjerit kaget.
Namun Aningsih tidak menghiraukan. Batang bazoka Benny yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi sangat menggoda. Aningsih sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun kesampaian.
Dengan mesranya Aningsih membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. "Oukh, punyamu hebat sekali, Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!" Aningsih terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.
"Kamu suka pada punyaku, Mbak?!" tanya Benny sambil membiarkan Aningsih mengeser-geserkan zakarnya yang hebat itu ke pipi dan matanya.
"Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!"
"Ngeri kenapa?!"
"Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!"
Beny teatawa kecil. "Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!"
"Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!" ujar Aningsih.
Benny tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman Aningsih. "Aku belum pernah merasakan batang zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini," ujar Aningsih lagi.
Benny merasakan geli dan nikmat bukan main ketika Aningsih menciumi zakarnya yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat dirasakan Benny. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. "Hmmh, Mbak! Sssh . . . !" mulutnya mulai merintih-rintih.
Sambil menciumi, Aningsih memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan Aningsih gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. "Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!" ujar Aningsih.
Benny tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang luaz biasa. Lezat!
Alat vital dalam genggaman Aningsih itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Aningsih yang gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki Benny yang tertekuk. Kedua paha Benny terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan Aningsih menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Benny yang tebal dan ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma Aningsih bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari Aningsih hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai Aningsih. Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Ningsih sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya kembali setelah bertahun-tahun berselang. Aningsih yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja Benny nienggelinjang kaget namun nikmat. "Ouw, Mbak! Hmmh . . . enak sekali, Mbak!" Benny merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.
Mendengar rintihan Benny, Aningsih jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah Aningsih tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Benny. Kunyahan-kunyahan mulut Aningsih dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Benny merintih-rintih. Kedua kakinya semakin menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Aningsih kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti Aningsih, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan Aningsih tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan Benny yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji milik Benny.
"Enak, Ben . . . ?!" tanya Aningsih ditengah-tengah kesibukannya.
"Enak sekali Mbak. Ennaaakkkh !!!" Benny berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya.
Aningsih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar Benny keluar masuk mulut Aningsih. Pada waktu masuk, mulut Aningsih sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh Benny gemetar. Jemarinya mencengkeram rambut Aningsih kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara Aningsih kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Benny menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan belakang kepala Aningsih kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan Benny pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan Aningsih. Dengan bersemangat sekali, tangan Aningsih mengocok pangkal kemaluan Benny dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : "Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!" menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Benny menggigil. Aningsih tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Benny. Maka tanpa ampun, bergumpal-gumpal cairan kenil:matan Benny, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan Aningsih. Mata Aningsih sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Benny setengah mengeluh memejamkan matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. "Oukh, Mbak. Kau sungguh hebat!" bisiknya.
Aningsih tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. "Bagaimana, Ben?! Enak?!" tanya Aningsih.
Benny menarik lengan Aningsih, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. "Enak sekali, Mbak. Oukh, enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!" ujar Benny.
Aningsih tersenyum mendengar pujian Benny, "Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!" ujar Aningsih.
Benny melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh. Kemudian memberikannya pada Aningsih. Aningsih meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai habis tiga perempat gelas. Kemudian Benny menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya sampai habis.
"Benny . . . !" mata Aningsih berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu." Dan Aningsih melirik ke selangkangan Benny. Senjatanya masih tegang mengacung.
"Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!" bisik Benny sambil membelai rambut Aningsih.

No comments:

Post a Comment